Sabtu, 02 Januari 2010

FCM #32 is Out Now



Fullcirclemagazine # 32 is out now! silahkan download majalahnya disini (download).

Apa yang menarik buat saya di edisi FCM # 32 kali ini?

Pertama adalah mendownload web browser Google Chrome (p13-14) lalu menginstallnya di Ubuntu. GChrome adalah web browser keluaran Google yang sangat dinantikan versi Linux, sekarang sudah keluar.

Kedua adalah offline package install di Ubuntu (p14-16). Walaupun akses internet sudah menyebar dimana-mana namun demikian masih banyak orang yang tidak mempunyai akses internet di rumah. Tip yang ditulis Chris Oliver ini cocok banget buat mereka yang mengandalkan akses internet diluar rumah seperti warnet untuk mendapatkan aplikasi yang mereka inginkan dari repository Ubuntu.

Ketiga adalah bagian My Story (p19-22) dimana kita bisa membaca kisah seorang guru yang menggunakan Xubuntu (varian Ubuntu dengan Desktop Environment XFCE) untuk menunjang tugasnya membantu anak-anak dengan autisme. Atau kisah seorang ibu rumah tangga yang sukses memanage komputer dengan Ubuntu untuk suaminya, hey ini menarik sekali karena konon katanya Linux itu hanya untuk geek. Kalau ibu rumah tangga bisa, kita juga bisa ;)

Keempat adalah rubrik Review (p25-26). Sepertinya si penulis, Lucas Westermann sama-sama suka menggunakan MOC (music on console) sama seperti saya. Reviewnya soal MPD sangat menarik sekali karena MPD sepertinya jauh lebih canggih dari pada MOC tetapi tetap irit resource. Sayang Ubuntu saya masih trouble, kalau engga sudah saya coba dan bikin review sendiri di blog ini :)

Masih banyak artikel menarik di FCM #32 ini seperti instalasi server, atau seri menggunakan terminal, Ubuntu game bagi yang suka game- bagian ini meriview game. Dibagian My Desktop ada orang Indonesia yang kirim gambar screenshot desktop kompie dia. Ga mungkin salah tebak karena namanya  Willy Permana ;)

Selain artikel-artikel diatas, masih ada yang lainnya. jadi cepatan gih download majalahnya :)

Jumat, 01 Januari 2010

Dengan MCNLive, LiveCD Saat Darurat.

Screenshot MCNLive

Saya baru saja kemarin mengalami masalah dengan OS Ubuntu saya. Secara tiba-tiba ketika saya menancap flashdisk ke usb notebook, Ubuntu menolak me-mount fd dengan error message sesuatu tentang mhal. Yang kedua ketika saya logout dari Blackbox (saya pake Window Manager ini diatas Ubuntu) tiba-tiba saya dapat pesan error kedua. X tidak mau jalan. Maka saya restart notebooknya untuk kemudian booting ulang ke Ubuntu (notebooknya saya dual-boot dengan Win XP). Lagi-lagi saya mendapatkan pesan error, saya membaca tulisan kernel panic dan Ubuntu gagal booting. Ini sudah diluar kemampuan saya untuk mengatasinya.

Sementara solusinya dicarikan saya masih tetap butuh notebook itu. Setelah Ubuntu gagal booting sepertinya Win XP adalah pilihan berikutnya. Entah bagaimana koq rasanya saya enggan sekali menggunakannya. Sepertinya saya sudah sedemikian rupa terbiasa dengan Linux dan merasa nyaman denganya.

Pilihan berikutnya ya make OS Linux yang ada LiveCD-nya. LiveCD itu simple-nya seperti menjalankan OS dari media CD, jadi ga perlu terlebih dahulu di instal di HD. Setelah ubek-ubek koleksi cd, saya menemukan satu CD berisi MCNLive yag dulu pernah iseng-iseng saya coba. Uniknya MCNLive itu turunan dari distro Linux kedua yang saya suka selain Ubuntu yaitu Mandriva dengan KDE sebagai desktop environment defaultnya.

Proses booting dari CD terbilang cukup cepat apalagi jika dibandingkan dengan LiveCD-nya Ubuntu. Tidak perlu login di MCNLIve, jadi kita langsung masuk desktopnya yang menggunakan KDE versi 3.5. Yang saya cukup perhatikan adalah panel milik KDE, sepertinya mengingatan saya dengan panelnya Windows 7. Dulu konon katanya KDE "meniru" Windows tapi kemudian mereka mengembangan style sendiri. Sekarang koq panel Win 7 jadi seperti panelnya KDE?

Anyway, untuk sementara kebutuhan saya tercukupi oleh MCNLIve ini. Setidaknya saya bisa ngetik pake KWrite dan bisa ngedit gambar pake GIMP 2.3 sampai masalah Ubuntu teratasi atau . . . instal ulang, hehehehehehehehehe . . . LiveCD emang Okay!

Kamis, 31 Desember 2009

Ketika Editing Diperlukan


Lokasi: Gunung Batur, Bali

Kodak C713



Photo aslinya sebenarnya ga bagus sama sekali menurut saya. Keseluruhan obyek didalam photo tampak tidak fokus karena tampak terlapisi kabut tipis sehingga secara keseluruhan photo Gunung Batur ini tampak plain death. Mungkin karena kombinasi cuaca siang hari yang cukup ekstrem waktu itu yaitu antara panas tinggi, awan yang bergerak cepat , kelembapan tinggi dan angin yang cukup kencang disertai kamera yang kurang begitu bagus membuat hasilnya cukup mengecewakan (ceritanya nyari kambing hitam :p ). Tadinya saya ingin mendeletenya tapi kemudian urung saya lakukan

Lebih setahun berlalu saya pikir saya bisa melakukan sesuatu terhadap photo "gagal" ini. So software image editing come to the rescue! ;) Saya sebenarnya tidak terlalu suka melakukan edit photo berlebihan, sedemikian rupa dengan berbagai macam efek dan filter karena kesan naturalnya jadi ilang. Fitur image editor yang saya pake adalah auto white balance (walau kadang ga ngefek blas) dan antara level atau Curve. Sebagai pemanis saya pake satu saja filter yaitu filmstrip yang membuat photonya tampak seperti . . .filmstrip. ;)

Highly Sophisticated Communication Device


Lokasi: Gedung P, Kampus Universitas Kristen Petra Surabaya

Kodak C 713 Diedit dengan GIMP 2.6.6


Kalau saya tidak salah ingat, dulu waktu di SD saya belajar tentang kegunaan sebuah alat yang namanya kentongan. Jauh sebelum adanya alat komunikasi modern seperti walkie-talkie, radio, TV, hp, dll . . . kentongan dalam masyarakat kita adalah highly sophisticated communication device (lebay ya istilahnya) untuk menyampaikan berbagai macam berita seperti adanya kelahiran, kematian, pergantian jam (spt yang sedang digalakkan lagi di RT saya dengan cara memukul tiang listrik yang terbuat dari besi), adanya bencana, panggilan untuk berkumpul warga, dan lain sebagainya.

Kentongan yang saya lihat ini berada di suatu sudut Gedung P Universitas Kristen Petra Surabaya. Saya jadi bertanya-tanya apakah kentongan yang terbuat dari besi ini masih digunakan sesuai dengan fungsinya? ataukah hanya sekedar panjangannya karena fungsinya sudah digantikan walkie-talkie oleh para satpam di kampus U.K Petra?

Membayangkan para satpam berkomunikasi menggunakan kentongan sepertinya lucu juga. Misalnya sang Komandan mau menanyakan kondisi keamanan ke anak buahnya, dia memukul kentongan dengan kode tertentu lalu setelah itu dia akan memasang telingannya lebar-lebar untuk mendengarkan balasannya hihihihihihihi . . . cuman apa ya efektif dilingkungan kampus sebesar U.K Petra yang banyak gedung bertingkatnya? Kalau di kampung dan desa kentongan sepertinya masih efektif dan berguna dengan perkecuali para hansipnya memilih menggunakan sms untuk menyebarkan berita kayak iklan provider layanan telepon selular ;)

Anyway hari ini adalah hari terakhir tahun 2009 dan dalam beberapa jam kita akan memasuki tahun baru 2010. Selangkah maju ke masa depan, semoga hari akhir itu akan segera tiba dan Kentongan memberi tanda suatu pergantian waktu :)

Rabu, 30 Desember 2009

Kumpul Bocah - 6 Photo Terseleksi

Memotret anak kecil yang sedang beraktifitas itu ga gampang banget apalagi anaknya sangat aktif dan ga bisa diem di satu tempat dalam waktu yang cukup lama seperti keponakanku, Phoebe. Sebisa mungkin saya selalu berupaya mencari angle dan moment yang bagus (setidaknya menurut saya yang tidak punya pengetahuan fotografi yang memadai, maklum newbie banget) dan kalau bisa sebanyak mungkin karena who knows ya hasilnya . . . kadang apa yang saya lihat di layar lcd kamera digital bagus eh ternyata kurang dan apa yang keliatannya kurang bagus eh ternyata ga jelek-jelek amat dilihat di layar notebook.


Waktu pengambilan photo di suatu sore di dekat rumah. Phoebe saat itu asyik bermain dengan anak-anak tetangga yang rata-rata berumur diatas Phoebe. Kamera digital yang saya pakai adalah Kodak C713, kamera digital jenis low-end, emang gada istimewanya selain kamera point n shoot dan sedikit fasilitas pengaturan. Sewaktu memotret saya tidak memakai flash karena selain cahaya sore itu cukup terang, menurut saya flash justru sering merusak hasil photo.

Saya menggunakan GIMP 2.6.6 bawaan Ubuntu 9.04 Karmic Koala untuk photo editing. Fitur GIMP yang saya pake untuk edit sederhana saja seperti auto white balance, curve, dan Levels. Berikut 6 photo terseleksi:


Photo 1


Photo 1. Anglenya selevel dengan tinggi Phoebe dan untuk itu saya harus mengambilnya dalam posisi jongkok. Editingnya cukup dengan auto white balance dan sedikit edit Curvenya. Sebagai yang terkecil, Phoebe sepertinya mendapat perhatian yang cukup banyak dari anak-anak lainnya. Phoebe sedang memegang boneka yan dipinjamkan oleh Ka Manda. Agak ga biasa tuh anak mau megang boneka dalam waktu lama padahal Phoebe ga suka boneka . . sesuatu hal yang biasa untuk anak perempuan. Mungkin karena bonekanya agak unik. Bonekanya dapat bersuara seperti tangisan bayi ketika jarinya lepas dari mulutnya (posisi ngemut) dan akan diem kalau kembali ngemut jarinya. Boneka yang aneh, koq ngajarin anak kecil ngemut jarinya, kan jorok :p

Photo 2


Photo 2.Anglenya masih sama dengan Photo 1 tapi posisinya lebih dekat ke obyek photo. Editing dengan GIMP sama dengan photo 1. Tampaknya Phoebe cukup senang memperhatikan boneka punya Ka Manda (btw sosok dilatar adalah Ka Via, kakaknya Ka Manda) yang bisa bersuara. Walau termasuk sangat susah disuruh makan tapi lengan Phoebe kekar bukan untuk anak kurang dari 2 tahun?

Photo 3


Photo 3.Angle lebih naik ke atas dibandingkan photo 1 dan 2. Editing pake auto white balance dan Levels. Sebenarnya photo ini tadinya saya anggap gagal karena Phoebe terus bergerak padahal saya ingin dia berada di posisi persis di tengah frame. Yang saya suka dari photo ini adalah posisi berdiri Phoebe dan Ka Via. Kalau saja photonya bisa sedikit saja bergeser ke kiri, saya rasa hasilnya jadi lebih balance.

Photo 4


Photo 4.Editing sama dengan photo 3. Seperti photo 3 saya pikir photo ini sedikit kurang "sempurna". Jika saja waktu itu kameranya sedikit lebih ke kanan :) So ini Phoebe dan Ka Via . . . no comment jadi saya biarkan photonya berbicara sendiri.

Photo 5


Photo 5.Editing dengan auto white balance dan Curve. Ketiganya sedang berada di halaman rumah keluarga bambang Sumantri. Phoebe, Ka Manda (ada dibelakang kakaknya, yang terlihat cuman tangannya) dan Ka Via. Phoebe senang melihat burung (entah itu burung liar atau peliharaan) dan keluarga Sumantri memelihara burung dalam sangkar.

Photo 6


Editing sama dengan photo 5, auto white balance dan Curve. Sepertinya Ka Via ga siap untuk diporet makanya ekspresi wajahnya agak "aneh". Tapi moment terbaik tertangkap dalam photo ini antara Phoebe dan Ka Manda, their smile! :) Senyumnya manis bukan?! Ini menurut saya, photo terbaik dari keseluruhan 6 photo pilihan saya, what dyou think?

Senin, 28 Desember 2009

Start-up Watchtower Library 2008 Dengan Terminal

Menjalankan Watchtower Library 2008 Bahasa Indonesia di Ubuntu sangat mudah, semudah menjalankannya di Windows sebagai satu-satunya OS yang didukung Wtlib (setidaknya sampai saat ini). Untuk start-up cukup klik Applications - Wine - Programs - Watchtower Library 2008 - Watchtower Library 2008 Bahasa Indonesia. Bahkan kita bisa juga membuat shortcutnya dan meletakkan entah di panel atau di desktop yang dengannya cukup di dobel klik lalu Wtlib jalan. Mudah bukan?

Masalahnya timbul ketika saya mencoba desktop environment selain Gnome yang merupakan DE default Ubuntu. Desktop Environment yang saya coba pake adalah yang jenisnya lightweigth alias ringan seperti LXDE, Window Maker, Openbox, Blackbox, dan IceWM. Masalahnya adalah saya tidak bisa menemukan Wine di daftar aplikasi terinstal pada ke-5 DE tersebut. So bagaimana mau menjalankan Wtlib kalau Wine-nya saja ga ketemu.

Salah satu trik (bodoh) yang saya coba lakukan adalah melakukan browsing ke folder wine dengan file manager lalu berupaya melakukan dobel klik pada file exe wtlib. Well that was a stupid trick, it wont work in gnome - what the hell i was thingkin that it would work in other DE? Humft . . . itu karena untuk dapat berjalan di Ubuntu (or whatever Linux Distro you have) Wtlib butuh Wine. So no Wine no Wtlib, period.

Solusinya ternyata sesuatu yang tadinya tidak pernah saya pikirkan selama ini ketika menggunakan Wtlib di Ubuntu. Untuk menjalankan Wtlib biasanya make GUI-Way dengan point n click (seperti yang saya jelaskan di paragrap 1) sekarang kita menggunakan terminal . . . yup, im talking about typing a command in terminal, sound geeky?! Hahahahahahahahaha . . . for a little while i have these kind of feeling. Jadi yang kita lakukan cukup jalankan terminal dan ketikan perintah berikut dan press enter . . .

$ wine start wtlibrary.exe

and Voila!! Im running Wtlib 2008 in lightweight Desktop Environment. Sebagai catatan start-up Wtlib di ke-5 DE yang saya sebutkan sebelumnya jauh lebih cepat dari pada start-up Wtlib di Gnome. Saya belom melakukan eksplorasi lebih jauh dengan menggunakan Wtlib pada ke-5 DE itu jadi belom tau apakah akan ada masalah dengan beberapa fitur tertentu di Wtlib.

FYI Wine oleh developernya disebut sebagai compatibility layer dari OS Windows dimana kita bisa menginstal dan menjalankan software for Windows di Linux dan . . . surprise-surprise . . . di MacOS juga (kalau ga salah termasuk juga beberapa OS Unix-like lainya, cmiiw). Jika kata emulator terlintas di benak kita ketika melihat fungsi Wine, mungkin ga salah tapi developer Wine sendiri sepertinya insist kalau Wine itu bukan emulator. Hal ini bisa kita dari nama Wine sendiri yang merupakan rekursif dari kata Wine=Wine is Not Emulator. Untuk info lebih lanjut bisa dilihat langsung di website resmi Wine yaitu www.winehq.org.


Wtlib di Blackbox


Wtlib di IceWM


Wtlib di LXDE


Wtlib di Openbox


Wtlib di Window-Maker

Rabu, 23 Desember 2009

Nidji & Iklan Rokok

Saya baru saja menonton tv, ada sebuah iklan cukup menarik perhatian saya yang sepertinya sudah lama tayang di tv tapi tidak pernah diperhatikan dengan serius. Iklan itu saya pikir visualnya sederhana tapi menarik apalagi bintang iklannya adalah grup band Nidji yang beberapa lagunya saya sukai tapi kemudian saya merasa tidak senang dengan iklan ini. Kenapa? karena iklan itu adalah iklan produk rokok. Terbersit sebuah pertanyaan dalam benak saya: why Nidji why?

Perusahaan rokok dalam hal ini Djarum jeli melihat pangsa pasar potensial berupa fans Nidji yang jumlah besar apalagi Nidji termasuk band papan atas di Indonesia, pastilah banyak orang kenal mereka. Karena hal itu sudah pasti Nidji dibayar mahal. Kalau diperhatikan dalam iklan itu tampaknya para penonton "diiming-imingi" kalau mau sukses, terkenal, dan keren kayak Nidji merokoklah Djarum Coklat. Suatu strategi standar di dunia periklanan rokok. Merokok sudah menjadi simbol Kesuksesan dan status bagi penggunanya yang sayangnya kebanyakan dari mereka tidak pernah jadi sukses (karena merokok) dan lucunya mati lebih cepat karena penyakit-penyakit yang berhubungan dengan merokok. Jadi menurut saya merokok itu lebih tepat disebut simbol kematian. Tapi kemudian saya kembali bertanya why Nidji why?

Saya cukup mengerti kalau kebanyakan band di Indonesia pastilah sulit mengadaan konser tanpa sponsor perusahaan rokok tapi menjadi bintang iklan produk rokok adalah pilihan. Nidji bisa saja menolak ikut dalam iklan rokok dengan berbagai macam alasan termasuk alasan moral. Tapi nampaknya bertambahnya isi rekening bank mereka dalam jumlah besar jauh lebih penting ketimbang mungkin sejumlah fans Nidji yang masih muda mulai merokok karena ingin "meniru" idola mereka.

merokok=mati!

Btw saya bukan fans Nidji ;) . . .

Senin, 21 Desember 2009

Diskon Kadaluarsa

Coba kamu baca artikel di detikinet.com yang muncul pada tanggal 14 Desember 2009 (emang berita jadul siy tapi kudu dibaca) tepatnya jam 15:46 WIB dengan judul Khusus Warnet, Microsoft Beri Diskon 70-90 Persen! Menurut saya mungkin ini adalah salah satu berita terbaik yang pernah saya dengar dari Microsoft selama 13 tahun ini. Dalam berita itu Microsoft berkerjasama dengan AWARI (Asosiasi Warnet Indonesia) dalam hal pengadaan lisensi software murah khusus warnet. Kalau saya tidak salah tangkap ya program ini dalam rangka memberantas pembajakan (tentu saja pembajakan produk M$) khususnya dikalangan pengusaha warnet. Ide yang bagus! Two Thumb-up.

anyway sebelum saya lanjut membahas berita ini, saya anjurkan kamu tulis gede-gede diatas selembar kertas sebagai berikut: 14 Desember 2009! . . . Okay! itu aja cukup. Nah buat apa saya suruh tulis itu?! Nah sabar aja, ntar situ akan tau gunanya apa . . .Okay?! Lanjut Gan! ;)

Ternyata artikel itu merupakan laporan dari konferensi pers yang di lakukan AWARI pada hari itu dengan judul "Menciptakan Warnet Sehat dan Aman di Indonesia, di Jakarta". Masing-masing pihak baik dari AWARI dan Microsoft memebrikan penjelasan tentang program tersebut yang bisa dibaca di artikel itu.

Karena sangat tertarik makanya saya segera pergi ke lokasi kejadian alias ke websitenya AWARI. Saya download 4 buah file pdf yang ada hubungannya dengan program diskon itu dan mulai membaca. Pertama-tama coba buka dan baca file dengan nama harga-software-bonus-subsidiII.pdf.

Yang pertama kita lihat adalah list harga OS dan software M$ yang aduhai murahnya. Ga percaya?! Sebagai contoh di list itu harga diskon Win 7 Pro= $48 = Rp. 480.000!!! Murah banget!!!! (dengan asumsi $1 = Rp.10.000) Sebagai perbandingan saya punya brosur dari pameran KompuExpo di Grand City Surabaya 27 Nov - 1 Desember 2009 kemaren. Disitu ada list harga Win 7 Pro= Rp.2.435.000 atau harga pamerannya= Rp.2.200.000 nah percaya kan murahnya? Dan ga hanya itu kalau kita baca lagi dibawahnya dengan hanya dengan pembelian minimun 5 lisensi maka ita dapat bonus yang tak kalah aduhainya. Coba loe pikir, kalau itu bonus-bonus diduitkan berapa coba penghematan lagi yang loe dapet? Bejibun ya . . Microsoft emang ciamik soro!!! (ciamik soro=ciamik sekali). Okay . . . thats it! Itu pujian terbaik saya buat Mikocok dan untuk artikel ini, cukup sampai disini. . . .

Sekarang for the real deal!

Saya baca paragrap dengan sub judul Subsidi dan lagi-lagi saya ga percaya, masih ada kalimat yang menyenangkan, ini saya kutip ya;

Besarnya subsidi disesuaikan dengan nilai pembelian dan bersifat progresif (semakin besar nilai pembelian
semakin besar nilai subsidi yang diterima)

Asik!!! Jadi sekarang kita harus cepat-cepat ikutan program ini, kumpulin duit trus beli lisensi Mikocok dengan harga super miring . . tentu saja ini buat yang punya warnet! :p tapi tunggu dulu . . . Coba deh baca kalimat sebelumnya . . .

Subsidi diberikan kepada pemesan yang mengirimkan purchase order dan pelunasan sebelum tgl. 1 Des 2009

What the . . . Ups! Sori saya hampir saja omong kotor . . . maap ya . . . tapi tgl 1 Des 2009?!!!

Here's the facts: Artikel di detikinet.com itu pada tanggal 14 Desember . . . acara AWARI itu juga diadakan pada hari yang sama, sudah pasti diadakan sebelum artiel ini di upload jadi . . . ngapain program itu diberitakan pada tgl 14 Des?! Kalau tgl 1 Des deadline buat pesan dan bayar?! Basi kan? Duh! Maap ya saya mungin orangnya bodoh tapi saya masih engga ngerti kenapa promosi diskon kadaluarsa kayak gini bisa terjadi. :p